PROFIL KABUPATEN ABDYA


Kabupaten Aceh Barat Daya (ABDYA) Ibukota Blangpidie merupakan sebuah kabupaten di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. ABDYA diresmikan Tanggal 10 April 2002 (hari jadi) , Sebagai kabupaten otonom yang terpisah dari Aceh Selatan selaku kabupaten induknya, melalui UU No.4 tahun 2002. Kabupaten ini dibatasi oleh Gayo Lues di utara, Aceh Selatan dan Samudera Hindia di selatan, Nagan Raya di barat dan Gayo Lues di timur. Wilayah ini termasuk dalam gugusan pegunungan Bukit Barisan.
Aceh Barat Daya yang merupakan pemekaran dari kabupaten induk, yaitu Aceh Selatan karena sudah sepantasnya lah, ABDYA menjadi sebuah kabupaten yang otonom karena dari segi kapadatan penduduk, dan segi geografis, ABDYA udah saat nya untuk berdiri sendiri untuk menbentuk suatu kabupaten yang otonom bukan semudah membalikkan telapak tangan butuh perjuangan dari sesepuh kita yang telah mengorbankan daya dan upaya sehingga ABDYA menjadi sebuah kabupaten yang resmi dari segi hokum dan otonom, dan bukanlah merupakan ekses dari reformasi pada tahun 1998 semata. Meskipun perubahan di pemerintahan saat itu mempercepat pemekaran tersebut, namun wacana untuk pemekaran itu sendiri sudah berkembang sejak sekitar tahun 1960-an. Kita sepantasnyalah berterama kasih yang sebesar besarnya kepada pendahulu kita yang mungkin sekarang sudah terlupakan situsnya.


ABDYA dikelilingi oleh laut dan gunung luas wilayah 2.334,01km² jumlah penduduk 122.875 jiwa dan punya Motto : Sapeu Kheun Sahoe Langkah, kalo mau ke Aceh Selatan dari Banda Aceh pasti kita akan jumpa dengan Kabupaten Adya, dulu saja banyak orang salah paham yang mana ibukota Aceh Selatan, orang bingung kerena Abdya sangat pesat dan maju dalam bidang perdagangan tidak salah sebuah lagu yang di tuliskan oleh Bob Rizal, “Jak Mita Peng Jak U Blangpidie tajak Meutani U Geunang Jaya” (id. Kalo mau cari duit datang ke Blangpidie kalo mau bertani datang ke Geunang jaya (salah satu kampong di kecamatan bahbahrot), saking indah nya lirik lagu tersebut yang pernah Hit dimasanya dulu, banyak sekali peminat lagu tersebut. Itulah sepotong kalimat yang terselip dalam lagu dengan judul Aceh Selatan. Dari situ saja, kita sudah dapat membayangkan bagaimana kota Blangpidie itu sebelum Jadi Kabupaten Abdya. Yang bakalan Maju dan tumbuh pesat karena di dorong oleh banyak nya komoditi export yang bisa di kembangkan salah satu contoh Pala, Sawit, Karet, Coklat dan bahkan Berbagai macam Hasil bumi sudah di temukan seperti : Minyak tanah di pesisir pantai Pulau Kayu Susoh, Emas dan bijih besi di Alue Sungai Pinang, juga di Ie Mirah.
ABDYA dikepalai oleh seorang Bupati defenitif yaitu Bupati baru Akmal Ibrahim yang dilantik oleh gubernur Aceh Drh. Irwandi Yusuf menggantikan Pejabat Bupati Drs. H. Azwar Umri menggantikan Drs. H. T. Burhanuddin Sampeyang sebelumnya di jabat oleh Nasir Hasan yang menggantikan Baharuddin, S.Sos, MM sebagai Bupati perdana yang dilantik gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Ir. H. Azwar Abubakar tanggal 18 Pebruari 2006.
Bupati yang sekarang adalah Akmal Ibrahim, S.H., sebagai Bupati definitif hasil Pilkada masa bakti 2006 - 2011. Mudah 2an bupati defenitif ini menjadi bupati yang bisa meningkat kan harkat, martabat, hajat hidup orang banyak, memang untuk menjalanka roda pemerintahan seorang Bupati tidak bisa mejalankan semua itu butuh dukungan dari masyarakat, mari kita buktikan semua janji yang pernah beliau lontarkan waktu sebelum jadi Bupati, dan mari kita dukung dan beri saran yang membangun sehingga nanti nya kalo memang Agroindustri dan Agrobisnis itu terlaksana dan sukses, betapa bahagiannya seluruh masayarakat ABDYA, mudah2ana kedamaian dan kenyamanan hidup bisa terus terpupuk di ABDYA dan bisa lancar semua apa yang akan dilakukan dan yang telah kita lakukan, tapi bahwa masih ada yang lebih Kuat dan Lebih kuasa terhadap semua rencana Manusai yaitu Allah SWT. Tidak ada katalain bahwa tanpa Usaha dan Doa semua rencana yang akan di lakukan tidak akan maksimal.
Aceh Barat Daya mengandalkan sektor pertanian dan perdagangan untuk kelangsungan perekonomiannya. Hal ini ditunjang dengan posisinya yang sangat strategis di jalur dagang kawasan barat Aceh, khususnya kota Blangpidie yang sejak dulu menjadi pusat perdagangan di pantai barat Aceh.
Sebenarnya bila kondisi keamanan semakin membaik, banyak sekali potensi yang dapat digali di kawasan ini, seperti pariwisata, karena posisinya yang merupakan paduan antara pantai Samudera Hindia dan Bukit Barisan yang hijau.
Selain itu Aceh Barat Daya dapat dikembangkan sebagai kawasan agroindustri, agribisnis dan peternakan terpadu serta sektor lain yang akan berkembang.
Aceh Barat Daya mencakup wilayah kecamatan sebagai berikut:
1. Babah Rot
2. Blangpidie
3. Jeumpa
4. Kuala Batee
5. Lembah Sabil
6. Manggeng
7. Setia
8. Susoh
9. Tangan-Tangan
Sumber :
http://www.abdya.go.id/
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Aceh_Barat_Daya
http://www.acehforum.or.id/kabupaten-aceh-barat-t12384.html?p=123483#post123483

Seperti kutipan di bawah ini :

Menata Perkebunan Abdya Masa Depan
Senin, 14 Januari 2008 03:00 WIB

Di balik kesederhanaannya, pasangan Bupati dan Wakil Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) terpilih, Akmal Ibrahim-Syamsurizal, mempunyai niat mulia dalam meningkatkan taraf hidup masyarakatnya melalui sektor perkebunan. Salah satu cara adalah memungsikan kembali lahan-lahan yang selama ini terlantar akibat tergenang banjir.
Di balik kesederhanaannya, pasangan Bupati dan Wakil Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) terpilih, Akmal Ibrahim-Syamsurizal, mempunyai niat mulia dalam meningkatkan taraf hidup masyarakatnya melalui sektor perkebunan. Salah satu cara adalah memungsikan kembali lahan-lahan yang selama ini terlantar akibat tergenang banjir.

Sosok yang dikenal dekat dengan kalangan ‘bawah’ ini memprogramkan 2008 Kabupaten Abdya bebas banjir. Ini terkait dengan rencananya membangun sektor perkebunan sebagai sektor andalan untuk meningkatkan perekonomian masyarakatnya.
Tak muluk-muluk, Akmal mencanangkan 50 ribu hektare sawit, 20 ribu hektare coklat dan 10 ribu hektare karet di lahan-lahan milik masyarakat yang selama ini tidak bisa difungsikan karena tergenang banjir yang setiap tahun melanda daerah itu.

Mewujudkan harapannya itu, Akmal Ibrahim yang dalam Pilkada Bupati dan Wakil Bupati Abdya yang lalu berpasangan dengan Syamsurizal, mengalokasikan dana cukup besar dalam APBK Abdya untuk pembangunan infrastruktur, terutama untuk pembuatan saluran pembuang di areal perkebunan dan persawahan. "2008 Abdya bebas banjir, 2009 kita tidak lagi cerita masalah banjir, tidak lagi cerita bantuan masa panik. Makanya, biaya pembangunan infrastruktur di Kabupaten Abdya ini cukup besar, sekaligus untuk membuka lahan-lahan terlantar yang tergenang.

Ini terkait dengan program 50 ribu hektare sawit, 20 ribu coklat, 10 ribu karet. Jadi, Abdya hanya berbicara tiga komoditi, sedangkan komoditi yang lain saya rasa masyarakat daerah kami ini sudah tahu bagaimana melakukannya," kata Akmal Ibrahim dengan gaya bicaranya yang plas-plus, namun penuh makna. Khusus kelapa sawit dan coklat, penanamannya akan dilakukan di areal perkebunan yang datar. Sedangkan karet akan ditanam di areal perkebunan yang berbentuk dataran tinggi. "Penataan seperti ini sengaja kita lakukan untuk menjaga keseimbangan alam. Jadi, tanaman-tanaman yang mempunyai akar tunggang dan dapat menahan erosi seperti karet dan pala, itu akan ditanam di kawasan yang berbukit," sebut Akmal Ibrahim yang sempat menekuni dunia kewartawanan selama 18 tahun sebelum terpilih menjadi bupati.
Keinginan Akmal meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui tiga komoditi di sektor perkebunan bukan tidak beralasan, mengingat hamparan perkebunan kelapa sawit yang dikelola sejumlah perusahaan swasta, hingga kini masih berjalan dengan baik.
Disebutkan, upaya pemberantasan kemiskinan melalui sektor perkebunan dan tanaman pangan sangat memungkinkan dilakukan di daerah itu. "Saya berharap, setelah program ini berjalan, setiap keluarga di Kabupaten Abdya ini bisa memperoleh Rp 4 juta perbulan. Jadi, sawit, coklat dan karet itu real. Apalagi sekarang sudah ada pengusaha asing yang ingin bekerjasama dengan kita untuk membuka pabrik pengolahan kelapa sawit di Abdya karena mereka melihat prospek perkebunan kelapa sawit di daerah ini sangat bagus."
Menurut Akmal Ibrahim, dalam hal pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit di daerahnya itu, satu hal yang harus dipahami oleh investor bahwa Pemerintah Abdya tidak akan membiarkan atau melepas pembangunan pabrik sawit itu kepada swasta murni, karena investasi pemerintah terhadap perkebunan sawit sangat tinggi.
Selain itu, pemerintah juga mendesain agar daerah itu juga punya Pendapatan Asli Daerah PAD) dari perkebunan kelapa sawit, dengan mengadopsi pola yang diterapkan Malaysia, dimana pabrik dibangun oleh pemerintah. Sedangkan perkebunannya sendiri itu murni dilakukan oleh masyarakat, tidak boleh ada pengusaha yang melakukan investasi untuk perkebunan.
Berbicara mengenai komoditi coklat, menurut data yang ada, di Pasar Blangpidie—ibukota Kabupaten Aceh Barat Daya, dari hasil perkebunan coklat masyarakat di daerah itu setiap harinya terkumpul rata-rata 20 ton perhari.
"Coklat tersebut adalah cokal organik, tanpa pupuk, tanpa pestisida. Penanamannya dan perawatannya dilakukan secara alami oleh masyarakat. Jadi, kalau ada yang membutuhkan coklat yang alami, datanglah ke Abdya," kata Akmal.
Akmal Ibrahim adalah salah satu sosok pejabat yang percaya pada konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat. "Yang saya kejar sekarang bukan pertumbuhan ekonomi, tetapi pemerataan pendapatan. Jadi, konsep ekonomi saya adalah konsep pemerataan bukan pertumbuhan. Karena kalau konsep pertumbuhan yang kita anut, maka akan banyak masyarakat yang miskin," ujarnya lagi.
Akmal menambahkan, apa yang dilakukannya itu bukanlah kehendaknya melainkan keinginan masyarakat. "Saya hanya melaksanakan apa yang diinginkan masyarakat. Karena itulah mengapa saya bertahan tidak memberikan lahan kepada pengusaha swasta. Sampai saat ini masih banyak masyarakat Abdya yang miskin," tandasnya.
Menurut data yang ada, angka kemiskinan di daerah itu mencapai 56 persen dari jumlah penduduk 122.875 jiwa. Ini merupakan angka yang signifikan dan harus mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Abdya.
Sumber : http://waspada.co.id

Tidak ada komentar: